Bekal Utama Mendidik Anak

Bekal Utama Mendidik Anak
1
PC PEMUDA PERSIS CIBATU Silaturahmi, Silatulilmi, Silatul’amali
4
وَلۡیَخۡشَ ٱلَّذِینَ لَوۡ تَرَكُواْ مِنۡ خَلۡفِھِمۡ ذُرِّیَّةٗ ضِعَٰفًا خَافُواْ عَلَیۡھِمۡ فَلۡیَتَّقُواْ ٱ وَلۡیَقُو لُواْ قَوۡٗلا
سَدِیدًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS. An-Nisa : 9)

Dari ayat diatas, minimal ada 3 bekal yang harus dimiliki oleh para orang tua dan pendidik. 3 bekal ini diringkas dengan 3K yaitu kekhawatiran, ketakwaan, dan komunikasi.

Pertama, kekhawatiran.

Kekhawatiran ini melahirkan sikap antisipasi dan kehati-hatian. Orang tua selayaknya memiliki kekhawatiran terhadap kondisi anak-anaknya di masa yang akan dating terkait kehidupan mereka baik di dunia maupun kehidupan nanti di akhirat. Jangan sampai anak menjelang aqil baligh nanti memiliki kemampuan yang lemah, bukan hanya intelektualnya tapi juga spritual dan emosionalnya.

Terlebih hal-hal yang destruktif terhadap mereka arusnya begitu besar ditunjang dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Gempuran pornografi, free sex atau pergaulan bebas, kriminalitas, dan narkoba semakin kuat menyerang bertubi-tubi generasi kita ini. Kondisi seperti ini dibuktikan dengan data KOMNAS Perlindungan Anak yang  melakukan penelitian pada 4500 anak Remaja SMP dan SMA dan hasilnya cukup mengagetkan. 97% pernah menonton film porno.

Bekal Utama Mendidik Anak

Sebanyak 93,7% mengaku sudah pernah berciuman, mencium payudara dan melakukan oral seks dengan pacarnya. Sementara 62,7% siswa SMP mengaku sudah tidak perawan lagi. Lalu 21,1% siswi SMU mengaku sudah pernah sudah pernah melakukan aborsi. Data lain menyebutkan 84% dari 1.199 siswa SD sudah pernah melihat film porno (sumber : majalah karima).

Keimanan kita akan adanya Hari Akhir tentulah harus semakin menambah kekhawatiran ini. Karena kehidupan manusia di akhirat nanti ditentukan oleh kehidupanya di dunia, sebagai mana Rasulullah SAW bersabda bahwa dunia ini tempatnya menanam (mazro’ah) untuk akhirat. Jadi jika kondisi generasi muda kita di dunia banyak terjerumus pada berbagai macam kemaksiatan, lalu apa yang akan mereka panen nanti di akhirat? Wal iyadzu billah.

Meningkatkan kekhawatiran ini bukan berarti mambuat kita over protective pada anak sehingga anak tidak bias mengembangkan bakat dan fitrahnya, tetapi seharusnya membuat para orang tua sadar (yaqdzoh) sehingga lebih giat lagi untuk meningkatkan kapasitas ilmu pengasuhan (parenting). Karena dengan ilmu pemahaman yang benar akan melahirkan pola asuh yang benar pula.

Dan pola asuh yang benar adalah investasi besar bagi para orang tua sekaligus hadiah terbaik dan terindah bagi anak-anak kita sebagaimana seorang penyair dunia Muhammad Iqbal mengatakanya. Tetapi sebalilknya, jika kekhawatiran ini tidak hadir dalam jiwa orang tua maka akan bersikap lalai dan sembrono alias alias tidak hati-hati yang akhirnya menyebabkan hilangnya kontrol kepada prilaku anak-anak dan kurangnya menanamkan nilai-nilai kebaikan juga asal-asalan dalam mendidik mereka.

Kedua, ketakwaan. Dari sekian banyak takwa, Ibnu Mas’ud RA meringkaskan bahwa takwa itu taat tidak maksiat, syukur tidak kufur dan ingat kepada Allah (dzikir) tidak lalai. Seringkali yang menyebabkan mendatangkan musibah adalah ketidak taatan atau kemaksiatan seseorang kepada Allah sebagaimana firman Allah SWT. Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (terjemah QS, Asy-Syura : 30) Musibah itu banyak macamnya.

Baik fisik ataupun mental/akhlak, yang bersifat duniawi ataupun agama. Seseorang terkadang diuji musibah tersebut melewati anak atau pasanganya. Maka disinilah peran penting ketakwaan seseorang agar tidak terjatuh terhadap maksiat dan terhindar dari berbagai macam musibah yang menimpanya lewat anak anak atau pasangannya. Terutama musibah berupa agama.

Karena terkadang musibah yang berupa material duniawi bisa menjadikan seseorang semakin dekat kepada Allah dan membersihkan dosanya tapi jika musibah itu berupa agama, dimana seseorang terpuruk karena jelitan kemaksiatan dan berbagai penyimpangan syariat maka inilah musibah yang sesungguhnya. Kenapa? Kerana di dunia akan mendapat kesulitan dan di akhirat akan menuai siksaan. Maka musibah agama inilah yang harus dikhawatirkan menimpa pada keluarga muslim.

Di zaman salaf (terdahulu), mereka menyadari ketika akhlak istri dan anakanaknya jelek bahkan ketika kendaraan unta mereka bermasalah maka itu di sebabkan kemaksiatan mereka. Tentu hal ini bukan berarti bahwa jika ada masalah keluarga kemudian menyalahkan maksiat, atau jika ada masalah pada anak kemudian otomatis itu disebabkan kemaksiatan ibunya tetapi setidaknya hal ini membuat para orangtua bermuhasabah akan setiap perkara yang menimpanya.

Pemahaman seperti inilah yang mungkin menjadikan seorang tabi’in yang bernama Sayyid bin Musayyab menambah salat sunnat 2 rakaat ketika melihat anaknya, karena berharap bahwa keshalehan dia menjadi jalan keshalehan anaknya pula. Ketakwaan juga menjadikan para  orang tua layak untuk menjadi uswah atau teladan bagi anak-anaknya.

Sedangkan keteladanan ini menjadi prinsip utama ketika anak dibawah 7 tahun. Sebab pengasuhan itu tidak hanya butuh mentransfer ilmu tentang kebaikan tetapi bagaiman ilmu tersebut menjadi wasilah terwujudnya karakter baik pula. Mungkin inilah yang menginspirasi pakar parenting Ida S. Widayanti dalam buku serial catatan parentingnya yang ke 3 dengan judul “Mendidik Karakter Dengan Karakter”.

Ketiga, komunikasi. Dimana sudah dimaklumi bahwa keberhasilan orang tua terhadap anaknya dan keberhasilan anaknya dimasyarakat, karena komunikasi yang berjalan baik. Antara seorang pengajar dan yang diajar sukses karena komunikasi yang bagus.

sudah menjadi tugas sebagai orangtua dan pengajar memberikan komunikasi yang baik terhadap anak-anaknya agar kebaikan menjadi terwujud.

Wallahu’alam.

Sumber : Hasan Faruqi dalam Buletin
Dakwah Sohwah edisi 78. Disalin dan
ditambah oleh : Irham Ghojinul Haq
(Tasykil bidang Penelitian dan
Pengembangan PC Pemuda Persis
Cibatu dan anggota Brigade Persis)


Bersyahadat dengan benar

Bersyahadat dengan benar
Bersyahadat dengan benar

Di dalam kehidupan keseharian seringkali kita mendapati orang yang menganggap bahwa syahadat sebagai rukun Islam yang pertama hanya berhubungan dengan iqraru bi lisan (pelafalan lisan) semata tanpa mengandung konsekuensi apapun dalam kehidupan nyata. Padahal, para ulama telah menguraikan secara panjang lebar konsekuensi dari syahadat itu. Malah, ada syarat-syarat syahadat yang mesti dipenuhi bagi siapapun yang mengaku beriman. Dalam hal ini Syaikh Shalih Ibn Fauzan Ibn Abdillah al-Fauzan hafizhahullah menyebutkan tujuh perkara yang menjadi syarat shadatain, diantaranya adalah: Maka ketika sang dokter (1) al-ilmu, (2) al-yaqin, (3) al-qabul, (4) al-inqiyad, (5) al-ikhlash, (6) as-shidu, dan (7) al-mahabbah.

Kenapa harus tujuh perkara ? karena ketujuh syarat ini faktanya selalu ada dalam realita. Seorang yang tengah menjalani sebuah profesi ,misalnya seorang dokter yang menangani pasien, maka sudah seharusnya dokter tersebut memenuhi ketujuh perkara diatas. Maka ketika sang dokter hendak mengobati pasiennya, ia harus berlilmu terlebih dahulu. Artinya, sidokter sudah mengetahui penyakit pasiennya, kemudian harus ada kepercayaan yang dalam bahasa keseharian disebut sugesti pasien terhadap dokternya. Maksudnya, sipasien percaya bahwa dokternya itu seorang ahli dalam bidangnya, kemudian siap menerima (qabul) saran dari si dokter serta siap pula melaksanakan (inqiyad) segala perintah sidokter untuk kesembuhan penyakitnya dengan penuh keikhlasan dan pembenaran (shidqu) jika apa yang disarankannya itu dipenuhi dan atas izin allah penyakitnya sembuh maka tentunya sipasien akn timbul rasa simpati (mahabbah) kepada sang dokter, bahkan ia akan merekomendasikan saudaran-saudaranya untuk berobat kepada dokter tersebut.

Pertama, ilmu. Di dalam urusan keimanan ilmu merupakan syarat mutlak yang mesti dipenuhi oleh kita semua. Hal ini sebagaimana firman Allah :

ٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مُتَقَلَّبَكُمۡ وَمَثۡوَىٰكُمۡ 
١٩ 

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (Q.S.Muhammad 47 ayat 19)

Kedua, yaqin. Al-Qur’an menjelaskan bahwa keyakinan orang beriman tidak boleh tercampur dengan keraguan sedikit pun. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ يَرۡتَابُواْ وَجَٰهَدُواْ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ ١٥ 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”(Q.S.Al-Hujurat 49 ayat 15)

Ketiga, qabul. Setelah kita mengetahui dengan ilmu dan tidak tercampur dengan keraguan sedikit pun tentang kebenaran syahadatain, maka sudah sepatutnya kita menerima (qabul) seluruh tuntutan dari syahadatain. Hal ini amat berbeda dengan kelakuan orang-orang kafir yang digambarkan Allah sebagai orang-orang yang angkuh. Allah berfirman:

إِنَّهُمۡ كَانُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ يَسۡتَكۡبِرُونَ ٣٥ 

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri.” (Q.S.Al-Shaffat 37 ayat 35)

Keempat, inqiyad. Sebuah penerimaan (qabul) takkan bermakna tanpa pengejawantahan ajaran yang diterimanya itu, sehingga konsekuensi selanjutnya dari syahadatain adalah tunduk patuh (inqiyad) atas apa yang diyakininya itu.Allah dalam hal ini berfirman:

وَمَن يُسۡلِمۡ وَجۡهَهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٞ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰۗ وَإِلَى ٱللَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلۡأُمُورِ ٢٢ 

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.”(Q.S.Luqman 31 ayat 22)

Kelima, Ikhlas. Tidak syak lagi, keikhlasan merupakan syarat mutlak bagi semua aktivitas ibadah termasuk penerimaan syahadatain. Justru pelafalan syahadatain dikarenakan keterpaksaan sering kali menimbulkan keambiguan dalam sikap dan amal seseorang.

Orang-orang munafiq masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan tipikal konkrit keterpaksaan orang-orang kafir untuk melafalkan syahadatain karena dorongan keamanan diri dalam pergaulan sosial, bukan mengharap keridhaan Allah, sehingga orang-orang seperti ini amat rapuh dalam menjalankan perintah Agama. 

Allah menyindir mereka di dalam firman-Nya:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٖۖ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ ١١ 

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.”(Q.S.Al-Hajj 22 ayat 11)

Keenam, shidqu (jujur dan benar). Konsekuensi syahadatain adalah sikap shidqu terhadap kandungan kalimat tersebut. Tidak ada dusta dalam pelafalan kedua kalimat syahadat. Bukan pura-pura menerima kedua kalimat syahadat sementara hatinya mengingkarinya karena sikap seperti ini merupakan karakter orang-orang Munafiq. Hal ini sebagaimana dikemukakan Allah di dalam firman-Nya:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ ٨ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَمَا يَخۡدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ ٩ 

“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.”(Q.S.Al-Baqarah 2 ayat 8-9)

Ketujuh, mahabbah. Sebagai seorang mukmin yang benar tentu akan mencintai kalimat syahadatain bahkan siap sedia untuk membelanya mati-matian. Untuk itu, konsekuensi syahadatain terakhir ini menyempurnakan konsekuensi-konsekuensi sebelumnya. Allah mensiyalir hal ini di dalam Firman-Nya:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادٗا يُحِبُّونَهُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَشَدُّ حُبّٗا لِّلَّهِۗ وَلَوۡ يَرَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓاْ إِذۡ يَرَوۡنَ ٱلۡعَذَابَ أَنَّ ٱلۡقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعٗا وَأَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعَذَابِ ١٦٥ 

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”(Q.S.Al-Baqarah 2 ayat 165)

Itulah ketujuh perkara yang sejatinya dimiliki setiap orang yang bersyahadat agar keimanan mereka 
tidak sekedar hiasan bibir semata.

Wallahu a’lam bis-shawab