Menunggu datangnya Ajip Rosidi - Ajib Rosidi yang lainnya

Menunggu datangnya Ajip Rosidi - Ajib Rosidi yang lainnya
Menunggu datangnya Ajip Rosidi - Ajib Rosidi yang lainnya

                Bismillahirohmanirohim
                Bertemu kembali dengan My blog yang selalu berusaha membagikan hal-hal yang positif bagi kamu. Amin.
Pernahkah kamu mendengar nama Ajip Rosidi? Jarangkan! Sakin jarangnya, sedikit Informasi mengenai beliau di internet. Saya juga baru mengetahui nama itu ketika menelusuri materi orang-orang sukses tanpa Ijazah, dan disana terdapat nama Ajip Rosidi. Sedikit demi sedikit saya menelusuri jejang belaiu dan ternyata belaiu itu adalah orang yang sangat luar biasa
Yang membedakan Ajip rosidi dengan tokoh sukses lainya adalah konsep sangat luar biasa yang beliau punya. Apabila orang sukses tanpa ijazah lain sukses karena berbisnis, memulai erdagang dan berhasil meraih kesuksesan karena dilimpahi materi. Berbeda dengan Ajip Rosidi.
Baca artikel terkait di bawah
 Beliau sukses bukan karena beliau menjadi pembisnis sukses, beliau sukses karena kecintaannya pada budaya dan sastra daerahnya. Membaca dan menulis adalah keahliannya sehingga dia menjadi seorang dosen meskipun tanpa Ijazah SMA. Ini baru laur biasa...
Menolak mengikuti ujian nasional adalah prestasi lain yang membuat saya kagum pada beliau. Bila orang sukses lain seperti Bob sadino yang tidak ingin kuliah karena menghambat kesuksesannya, Pak Ajip justru menolak Ujian naisonal karena ada bocoran soal pada waktu itu. Dan beliau bertekad akan sukses meskipun tanpa Ijazah. Sukses disini adalah sukses mengalahkan orang yang telah lulus SMA ataupun Perguruan tinggi dengan prestasi tulisannya. Sebagaimana yang telah dikatakannya “saya ingin membuktikan jika saya bisa sukses meskipun tanpa Ijazah”.  Ini baru keren...
Profil Beliau
Ajip Rosidi terlahir di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 1936. Suku bangsa sunda. Pekerjaan beliau adalah sebagai seorang sastrawan Indonesia, Penulis, Budayawan, Dosen, Pendiri dan Direktur beberapa penerbit, pendiri serta ketua Yayasan Kebudayaan Rancage.
Riwayat pendidikan Beliau, sekolah SD di Jatiwangi (1950) kemudian melanjutkan ke SMP di Jatiwangi, kemudian di teruskan ke  SMPN VIII Jakarta pada tahun 1953 sampai ke Taman Madya, taman Siswa Jakarta pada tahun 1956 namun tidak taman karena Insiden kebocoran Soal ujian Nasional tersebut.
Menikah dengan Fatimah Wirjadibrata dan memiliki enam orang anak yaitu Nunun Nuki Aminten, Titi Surti Nastiti, Uga Perceka, Nundang Rundagi, Rangin Sembada, dan terkahir Titis Nitiswari.
                Kesuksesan yang beliau dapatkan sangatlah menginspirasi, karena beliau sukses dengan karyanya. Banyak sekali karya yang telah beliau tulis, baik berupa cerpen, karya drama, cerita wayang, cerita rakyat, bacaan anak-anak, intermezo, dan banyak lainnya.
Contoh-contoh karya Pak Ajip :
Tahun-tahun kematian (kumpulan cerpen, tahun 1955)
Ketemu di jalan (kumpulan sajak bersama SM Ardan dan Sobron Aidit, tahun 1956)
Pesta (kumpulan sajak, 1956)
Kapankah Kesusasteraan Indonseia lahir? (tahun 1964, cetakan ulang yang direvisi tahun 1985)
Ikhtisar Sejarah Sastera Indonesia (tahun 1969)
Satera dan Budaya kedaerahan dalam keindonesiaan tahun (1995)
Mimpi Masasilam (kumpulan cerpen, tahun 2000. Sudah diterjemahkan ke dalam bahasa jepang)
Korupsi dan kebudayaan (tahun 2006)
Hidup Tanpa Ijazah, Yang Terekam Dalam Kenangan (otobiografi tahun 2008)
                Prestasi beliau bukan hanya dalam karya satranya, namun juga karena tekad kuat mempertahankan kebudayaan tradisionalnya. Malah bukan saja mempertahankan kedudayaan tradisionalnya, beliau juga memperkenalkan Budaya ke dunia Internasional.
                Menjadi guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka) adalah prestasi dan kebanggan tersendiri baginya.  Beliau juga mendapat gelar Profesor tamu jepang pada usianya ke 43 tahun.
Pertanyaan sekarang adalah apakah akan ada penerus dari beliau?
Dan
Akankah ada orang yang bertekad seperti beliau?
Menunggu datangnya Ajip Rosidi - Ajib Rosidi yang lainnya

                Khawatiran ini bukan di katakan oleh saya melainkan di katakan oleh bapak Ajip Rosidi sendiri dalam seminarnya yang bertemakan membedah kiprahnya di dunia sastra di Universitas Padjajaran 28 Mei 2003. “saya merasa ngeri karena saya mendapat kesan bahwa saya hendak dikultuskan sehigga timbul pikiran menciptakan Ajip-ajip baru. saya ngeri karena saya khawatir hal itu menimbulkan rasa takabur”.
                Bukan hanya dalam budaya tapi juga dalam pemikiran tentang pendidikan, akankah ada orang yang mengikuti jejak belaiu tidak mengikuti Ujian Naisional karena ada kebocoran soal?
                Pada dekade sekarang para siswa bukan menolak, melainkan meminta akan addanya bocoran soal! Akankah ada Pak Ajip yang lain pada jaman sekarang? Pertanyaan tersebut seolah sulit untuk dijawab. Bahkan semakin kesini, para siswa justru semakin tidak memperdulikan ilmu dan belajar dan malah lebih mementingkan Ijazah.
Seperti percakapan saya dan teman saya.
Teman saya        : “Bro, Ijazah sudah turun, ayo cepat ambil!”
Saya                       : “gak hah, saya gak terlalu memerlukannya”
Teman saya        : “wahh, terus apa dong gunanya kamu sekolah jika tujuan utama Ijazah tidak kamu ambil? Capek-capek kamu tiga tahun disekolah kenapa tidak mengambil Ijazah?”
Saya                       : “ilmu lah, sekolah itu tempat menuntut Ilmu”
Teman saya        : (terdiam)
                Mendengar perkataannya sudah jelas bahwa tujuan dia sekolah adalah Ijazah! Apalagi saya dan teman saya sekolah di SMK yang di tujukan untuk bekerja. Dan syarat utama melamar pekerjaan adalah Ijazah.
Namun, setelah saya cari di berbagai situs, dengan susah payah, akhirnya saya menemukan penerus Pak Ajip sang penolah Bocoran soal Ujian Nasional.
Dikutif di situs kompas.com saya menemukan tulisan yang berjudul Tolak Bocoran soal UN, Tiga siswa SMAN 3 Yogyakarta diberi penghargaan oleh KPK. Setelah membaca-baca tulisan tersebut saya mendapat sebuah nama yaitu Muhamad Syaqif Wismadi yang bertekad tetap jujur meskipun telah ada informsi akan ada bocoran soal UN.
Syaqif tetap bertekad mengisi soal ujian dengan jujur meskipun mendapat kesempatan untuk mencontek dari bocoran soal. Bocoran soal tersebut didapat dari kebocoran Google Drive dan sejabanya (saya kurang paham masalah seperti itu).
Atas konsisten dan tetap jujurnya Muhamad Syaqif dan dua temannya mendapat penghargaan dari KPK.
Semoga akan ada dan ada lagi orang-orang seperti disebutkan diatas yang sangat mementingkan pedidikan dan bukan nilai. Pendidikan moral tentunya. Karena merasa nilai tinggi dan mendapat penghargaan sebagai juara umum sekolah tidaklah berharga bila diraih dengan cara yang tidak jujur sebaliknya mendapat nilai kecil dan terkucilkan namun tetap jujur lebih membanggakan.
Catatan Saya, gak dibaca juga tidak apa-apa
                Jujur selama mengikuti Ujian Nasional sebanyak 3 kali, saya belum pernah namanya nyontek dan hal-hal lain terkait dengan ketidak jujuran, meskipun saya bukanlah orang yang pintar bahkan cukup bodoh. Tapi saya lebih mementingkan harga diri. Karena dengan tidak percaya dengan hasil sendiri dan lebih memilih menyontek dan tektek bengeknya yang lain adalah sama saja dengan tidak percaya dengan diri sendiri dan menjatuhkan harga diri itu sendiri.
Demikian Artikel mengenai Menunggu datangnya Ajip Rosidi - Ajib Rosidi yang lainnya. Semoga bermanfaat
Jangan lupa di share
Artikel terkait
Kesalahan-kesalahan yang sering anak muda lakukan untuk membangun masa depan
Peluang Usaha itu banyak, dengan kreatifitas pasti dapat di berdayakan

0 komentar:

Posting Komentar